Skip to main content

Pengalaman Baca Norwegian Wood

Oke aku gak expect kalau novel ini akan SEEEBAGUS ITU. Ini cuma cerita orang biasa di dunia yang biasa aja tapi entah kenapa kemasannya bisa sebagus itu.Aku pernah bilang bahwa aku gak mau lanjut baca ini. Selain karena uah ngintip bagaimana jalan ceritanya sampai ending di internet, efeknya habis baca ini aku suka murung.Tapi di weekend ini gak banyak yang bisa aku lakukan dan aku pengen chill menikmati minggu ini karena sebelumnya sibuk banget. Akhirnya aku putuskan untuk lanjut baca. Norwegian Wood  bukanlah sebuah cerita cinta biasa. It is more darker than i ever think wkwkwkw. Garis besarnya cerita ini adalah tentang siapa yang bertahan hidup dan siapa yang tidak  (re: siapa yang bertahan dan siapa yang bunuh diri), tentang sex, trauma, kesendirian, tentang sakit mental dan kelakuan manusia yang aneh namun sanga logis kalau terjadi di dunia ini. Aku suka plot ceritanya. Jadi isi buku ini adalah cerita flashback yang kelam dari pegalaman Toru Watanabe waktu kuliah 17 tahun yang lalu. Seperti yang aku bilang ceritanya dark banget, ini adaah cerita kenangan pahitnya Toru. Pun demikian artinya Toru tetep bertahan hidup sampai 17 tahun setelahnya. Buku ini pada dasarnya adalah tentang move on kan?
Ceritanya diawali dengan Toru yang denger lagu Norwegian Wood di Bandara. Dan tiba tiba dia flashback tentang kejadian waktu ia kuliah. Waktu dia kuliah di Tokyo, ia suka sama seorang gadis namanya Naoko. Naoko ini dulunya pacar bestie nya Toru, Kizuki. Saking deketnya mereka tuh waktu SMA suka hang out bertiga, sampai suatu hari tiba tiba Kizuki bunuh diri di umur 17 tahun, tanpa ada yang tau alasanya apa. Setelah Kizuki meninggal, Toru yang terpukul pergi kuliah di Tokyo. Ternyata dia ketemu lagi sama Naoko dan akhirnya tiap minggu merekaa jalan jalan bareng dan jadi deket. Waktu Naoko ultah, Toru sama Naoko ngerayain bareng di flatnya Naoko. Tapi tiba tiba Naoko nangis kejer gitulah dan di malam itu si Toru meluk Naoko dan akhirnya, ya tau lah mereka ngapain: Melakukan hal yang orang dewasa lakukan. Ya si Toru emang suka kan sama si Naoko. Ya mungkin  malam itu waktu dan keadaannya mendukung. Tapi setelah itu Naoko gak ada kabar lagi, bahkan dia pindah rumah dan gak pergi kuliah. Si Toru ini jadi bingung dan kind of hilang arah. Sebagai pelarian dia pergi hunting girls, i mean mabok dan having sex dengan siapapun. Ini efek kelakuan temen asramanya Toru sih yang hidupnya bebas banget dan udah nidurin 80 cewek, namanya Nagasawa. Toru ini orangnya tertutup, suka sendiri dan bukan tipe yang share masalah sama temen. Bestie dia cuma Kizuki yang udah bunuh diri waktu SMA. Di masa kesepian ini ia kenalan sama Midori temen kuliahnya di jurusan Drama. Beda dengan Naoko, Midori ini gadis yang bright, to the point,banyak ngomong, jujur dan pokonya pribadinya menyenangkan. Aku baca review orang di Goodreads tentang Norwegian Wood dan dia  bilang dialog Toru dan Midori adalah yang ia tunggu. Aku rasa aku setuju bangett. Dialognya asyik dan mereka bisa ngomongin apapun. Toru dan Midori jadi bestfriend juga tapi ya sejujurnya hubungannya complicated. Suatu waktu Toru dapat surat dari Naoko. Oh iya, latar waktu novel ini adalah di tahun 1969, jadi belom ada Whatsapp ya! Naoko minta maaf atas apa yang terjadi dan ia menjelaskan kalau dia tuh intinya sakit mental dan sekarang dirawat di sebuah tempat bisa dibilang seperti camp rehabilitasi buat orang yang sakit mental. Sesaat dapat surat itu Toru langsung nyusulin Naoko ke tempat rehabilitasinya, walaupun tempatnya terpencil banget. Disana ia nginep sekitar 3 harian. Toru dan Naoko intinya saling jujur-jujuran dan mereka pacaran.Cuman ya mereka gak bisa terus  sama-sama karena Toru harus pulang ke Tokyo buat kuliah. Dan Naoko harus dirawat disitu. Jadi Toru rutin kirim Naoko surat tentang aktivitasnya di Tokyo termasuk ia cerita tentang kegiatan dia sama Midori. Tapi  suatu hari Reiko,roommate nya Naoko kirim surat ke Toru. Diabilang, Naoko kesulitan membalas suratnya dan kondisi mentalnya makin parah, kayanya Naoko mau di transfer ke RSJ. Denger kabar itu Toru yang asalnya ngeliat Naoko membaik dan ngajak Naoko tinggal bareng jadi kecewa dan hancur.Ia kaya gak konek aja sama dunia sekitarnya, termasuk waktu sama Midori. Si Midori ini sampai marah karena  merasa diabaikan dan bilang gak mau ketemu Toru lagi. Dua  bulan tanpa surat balasan dari Naoko dan Midori yang gak mau ketemu dia lagi ternyata bikin Toru kesepian banget. Ia bahkan nyoba berkali-kali baikan sama Midori.Sampai suatu hari Midori  nyamperin dia dan baikan. Midori bilang ia mutusin pacarnya dan jatuh cinta sama Toru. Di momen itu Toru juga sadar kalau dia juga jatuh cinta sama Midori. Dan ia gamau  kehilangan  Midori  lagi.Tapi ia merasa ada tanggung jawab sama Naoko, karena udah janji dia gakbakal ninggalin Naoko. Dia minta waktu sama Midori, tapi keselnya adalah ia gak bisa jujur tentang keadaan sesungguhnya sama Midori. Arrgh gemes banget aku! Tapi Midori tau sih itu tentang ppacarnya Toru yang gak pernah ia jelaskan keadaannya. Midori sampai bilang bahwa yang real tuh aku, aku yang hidup. Aku pribadi lebih suka sama Midori ketimbang sama Naoko. 
Tapi gak  lama dari itu Toru nerima  kabar kalau Naoko bunuh diri. Toru bener bener completly shut down. Dia pergi keluar Tokyo dan bilang sama Midori bahwa  nanti Toru bakal hubungi  Midori lagi. Dia pergi menjauh dari dunianya. Ketika dia udah sadar Midori adalah orang yang dia butuh, ceritanya berakhir dengan open ending wkwkwkw. Keren banget plotnya. Aku langsung ngefans!!!! 
Semua cerita di novel ini dark kecuali dialog Toru sama Miidori yang kadang konyol tapi seru. Kalau mood lagi gak bagus mening stop dulu bacanya, karena buat aku novel ini bikin jadi bermuram durja. Ada juga satu cerita yang bikin aku agak mual bayanginnya (Sempet gamau lanjut baca juga gara-gara itu) Tapi itu gak bikin novel ini jauh dari kata bagus. Justru KEREN BANGET. Padahal ini cuma cerita orang biasa biasa aja, tapi bisa jadi menarik banget. Plus tema yang diangkat adalah Mental illness yang masih tetap relate dengan isu-isu jaman sekarang walaupun novel ini liris tahun 80an. Aku juga suka sudut pandang ceritanya. Murakami meminjam sudut pandang Toru, jadi  sudut pandangnya adalah orang pertama sebagai peran utama. Bagaimana  Murakami mendeskripsikan setiap benda, bau-bauan dan suara dengan sangat detail juga fantastis buat aku. 

Comments

Popular posts from this blog

depresi

Halo,sudah lama aku gak nulis disini. Aku putuskan, aku mau mulai menulis lagi. Alasannya? Karena kadang otak ini terlalu penuh, kesepian,dan kadang aku gak mau menyusahkan orang lain dengan cerita dan keluhanku. Sudah hampir 2 bulan sejak psikiatris bilang bahwa aku menderita depresi sedang. Ternyata dari semua buntut huru-hara di tahun tahun yang lalu adalah vonis D E P R E S I. Haha kadang aku merasa konyol, sampai juga ya aku di situasi ini.  Sebenarnya ada perasaan malu dan gak mau dianggap lemah. Tapi harus kuakui dengan segala kerendahan hati, aku merasa memburuk kalau pikiranku ditimbun sendirian.Perasaan kesepian itu bikin aku seringkali berpikir "apa mati aja ya?" Walaupun alhamdulillah aku gak nekat, tapi kadang aku takut sama pikiranku sendiri. Rasa sedih yang ekstrim itu sebentar tapi killing ea hahahah.  Tentunya psikiatris memberi aku obat, yang mana setiap hari banget banget banget harus diminum dan gak boleh kelewat. Dokter bilang kalau taat minum obat 6 bula...

Fotos der Woche

Aku gak tau kenapa aku belajar, beneran. Aku juga gak yakin apakah akan berguna proses belajar mandiri ini. Tapi ini cuma bukti aja: I won't stop.  hab versucht, sich die Pausezeit zu gönnen. Wollte das anders machen, indem ich nur Ebook während einer Tasse Kaffee gelesen habe.

27

Alhamdulillah sekarang aku oficially 27 tahun.Ulang tahun kali ini agak istimewa karena aku mulai semua dari awal lagi. Bahkan sebemarnya masih banyak yang harus dibenahi. Kali ini semuanya berbeda: Aku yang tanggungjawabnya jadi besar, aku yang harus kuat, aku yang gaboleh sakit, aku yang harus tidak menghiraukan omongan orang,dan aku yang kesepian saat mengembangkan diri. Rasanya jalan yang aku lalui terjal banget. Tapi aku bersyukur banget. Allah udah banyak ngasih kasih sayang. Dari kecil sampai dewasa Allah kasih hidup  aku mudah. Ujian besar itu aku baru rasakan  sekarang di pertengahan umur 20an.Itu pun Allah masih kasih jalan keluarnya. Plusnya adalah aku jadi orang yang sadar akan semuanya. Sadar akan apa yang benar dan salah, sadar besarnya tanggungjawab.Walaupun jalannya berat, tapi itu bentuk implementasi dari Al-Wadud milik Allah,yang ternyata sayang sama aku. Karena bikin aku menyadari semuanya di dunia, walaupun hidupku jadi hancur dan rasanya sakit banget. Dan ...